“ Sebuah Janji “
Karya : Rosdina
Dia
menghampiri Nana yang sedari tadi terpaku dengan bukunya.
“Na datang ya ke acara ulang
tahunku.” kata Naru sembari memberi secarik undangan ulang tahunnya.
“wah
sebentar lagi sahabatku ulang tahun ya..Ini ulang tahun pertama kamu yang
dirayain kan ? wah pasti asyik nih.” jawab
Nana dengan senangnya.
“ia dong, kalau begitu jangan lupa datang ya
na ! awas kalau kamu tidak datang!” ancam Naru.
”oke
ru.” jawab Nana.
***
Brughhh
! Dihempaskannya tubuhnya keatas sofa. Baru sebentar ia memutar kembali momen
di sekolah tadi pagi ia teringat tentang undangan ulang tahun dari Naru. Nana
benar - benar merasa sangat bahagia dengan undangan yang diberikan Naru disekolah
tadi namun ia masih bingung memutuskan untuk pergi atau tidak.
“aku
tidak harus bingung aku hanya perlu datang keacara itu.“ pikir Nana.
Permasalahan yang ada sebenarnya karena ia bingung
memberikan hadiah apa kepada Naru walaupun sebenarnya Nana telah lama menjadi
sahabat Naru namun sebenarnya ia merasa sangat bahagia karena Naru adalah
laki-laki yang selama ini disukainya walapun mereka sudah bersahabat sejak
mereka kecil namun perasaan itu selalu disimpannya dengan baik, karena ia tidak
akan pernah mengungkapkan perasaannya itu kepada Naru, ia takut persahabatan
yang selama ini telah terjalin sejak lama akan hancur. Setelah lama berpikir akhirnya
Nana memutuskan untuk tetap pergi. Ia tidak ingin mengecewakan Naru pada hari
ulang tahun sahabatnya itu.
***
Esok
nya adalah hari dimana acara ulang tahun Naru yang ke - 17 tepatnya tanggal 22
Juni yang dirayakan dirumahnya. Nana yang sebelumnya bingung memutuskan untuk
pergi atau tidak akhirnya datang juga keacara ulang tahun Naru. Pada waktu yang
bersamaan, ditengah keramaian teman-temannya yang datang. Nana tiba-tiba
ditunjuk oleh mama Naru untuk menjadi perwakilan teman sekelas Naru untuk
menyampaikan kata sambutan. Hal itu karena mama Naru kenal baik dengan Nana dan
ia juga sahabat dekat Naru.
”Na,
tolong kamu berikan kata sambutan ya, sebagai perwakilan teman sekelasnya Naru.” pinta mama Naru.
“Ya,tante.”
Jawab Nana.
Nana
pun merasa sangat senang karena ia berpartisipasi dalam acara ulang tahun Naru.
Setelah memberikan kata sambutan kembali dilanjutkan hingga acara terakhir pun
tiba yaitu berdo’a setelah menikmati hidangan makanan. Nana yang sedari tadi hanya
diam tiba-tiba terkejut karena Naru menghampirinya yang sebelumnya asyik
mengobrol dengan temannya dari sekolah lain.
“ Nana
terima kasih sudah datang keacara ulang tahunku, juga kata sambutan nya tadi.”
ucap Naru.
“
Ya,sama-sama ru. Selamat ulang tahun ya ru, semoga kamu makin dewasa diulang
tahun yang ke-17 ini dan tidak sombong, makin pinter deh, trus tetap jadi sahabatku selamanya ya hehehe..” tukas Nana panjang lebar.
“
haha aminnn pastinya dong J …kamu bisa aja na, makasih ya Nana.” ucap Naru
dengan senangnya.
Setelah
itu Naru pergi meninggalkannya. Nana hanya terdiam karena perasaan senangnya,
karena hari itu hari ulang tahun Naru. Ia benar – benar senang melihat Naru
hari itu.
***
Teriknya
mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang
ditengah taman tempat biasa yang ia kunjungi, membuat Naru hanyut dalam
imajinasinya. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impiannya yang
dicurahkannya lewat sebuah cerpen yang selalu ia tulis setiap imajinasinya
muncul karena kegemarannya yang kedua selain bermain futsal ialah menulis
cerpen.
Dilain
hal setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat dipipinya Nana bergegas
menyusuri komplek rumahnya pada waktu yang bersamaan, Nana yang melihat Naru
langsung memanggilnya.
“Naruuu,, dari mana saja kamu ?
Aku mencarimu !” teriak Nana.
“tadi aku main
futsal di tempat biasa. Ma’af, sudah buat kamu khawatir.”
“huh..kerjaan kamu main
futsal terus.” ucap Nana kesal.
“Iya dong kan kamu tahu futsal itu tak dapat dipisahkan dari hidup aku.”
“Huh, terserah deh, aku mau pulang aja !” cetus nana.
Dengan
rasa kesal, Nana pun melanjutkan perjalanannya yaitu pulang kerumah. Seperti
biasa ia sebenarnya mencari Naru untuk belajar ataupun bermain bersama hampir
setiap harinya mereka selalu bersama, namun karena matahari hampir
tenggelam. Langit ditaburi sinar jingga. Di ufuk timur telah menganga lubang
besar yang siap menelan sang surya. Dan bumi pun tidak lagi terang maka ia memilih untuk pulang ke rumah.
***
Didalam
kelas sedang asyiknya mendengarkan musik favoritnya CN BLUE yang selalu
didengarkannya setiap hari karena CN BLUE merupakan band favoritnya itu, namun tiba
– tiba Nana dikejutkan dengan teriakan dari Naru.
“Hei…Nananananaananono
daradiridaradu....” teriak Naru dengan nyanyian yang membuat telinga nya hampir
pecah.
“Aduh,
kamu kenapa ru ? emang aku tuli ya ?!
mengagetkan saja ! ”
“Hai na, jangan marah dong aku kan cuma bercanda, ooh iya asyik
sekali nih melamunnya, ikutan dong.”
“Siapa
yang melamun ? kamu tidak liat apa, aku kan lagi dengerin musik ! ” ucap Nana.
“Pasti cn blue kan ? hmmm…tapi…sekarang
dengarkan aku dulu, cn bluenya nantinya aja aku mau bicara sama kamu.” Pinta Naru.
“Kamu
mau bicara apa ?” tanya Nana penasaran.
“hmmm,,,”
Naru terdiam agak lama.
“Na,,sebentar
lagi aku mau pindah sekolah,” sambil memalingkan mukanya, dia hanya terdiam.
“kok kamu baru bilang sekarang ?” tanya Nana
dengan wajah sedih. Ia benar -benar merasa terkejut.
“Gak mungkin, kamu pasti
bercanda kan?” tanya Nana penasaran.
“Iya aku serius...aku benar –
benar akan pindah ke Malaysia ikut papa dan mamaku dan melanjutkan sekolah disana.
” jawab nya sambil menahan air matanya.
“Mengapa
begitu tiba-tiba, ru ? ” Tanya Nana penasaran.
“Aku sudah memutuskan untuk
melanjutkan sekolah di sana dan aku harus ikut papa dan mamaku,” ucapnya lagi.
“Tapi
kan nanggung kita sudah kelas 3 ?” tanya Nana lagi dengan ekspresi seperti
sangat kecewa.
“Ia, tapi papaku mau pindah
tugas jadi terpaksa aku harus ikut pindah sekolah dan tinggal disana, karena itu
aku memberitahu kamu terlebih dahulu na.”
Nana hanya terdiam, tanpa bisa berucap
ia merasa sangat sedih karena akan berpisah dengan sahabat yang benar-benar ia
sayangi. Nana pun tampak begitu murung selama disekolah ia terus berpikir
tentang Naru yang akan berpisah dengannya.
***
Dan
bumi pun tidak lagi terang. Matahari masih di atas kepala sampai kini matahari
telah lenyap, berganti senja. Langitpun tampak begitu gelap dan sepertinya akan
turun hujan Naru yang
sedari tadi duduk menemani mamanya yang terbaring lemas dirumah sakit, yang belum
juga terbangun. Mama Naru
divonis terkena kanker otak stadium akhir. Dan kanker nya itu telah meluas.
Bila kankernya masih ada di stadium 2, dokter bisa melakukan chemoterapi dan
pengambilan jaringan-jaringan yang terkena kanker. Tapi, untuk pengobatan semua
terlambat. Mama Naru
tidak mengetahui bahwa ia mengidap
kanker otak.
Naru benar – benar khawatir dengan keadaan mamanya
hari itu. Hal ini membuatnya tidak masuk sekolah selama 3 hari. Malam semakin
larut, Naru yang
juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap, ia terbaring
dipangkuan mamanya hingga mentari pagi
tiba.
***
Nana
yang selama 3 hari tidak melihat Naru dan
tidak mengetahui kabar tentang Naru semenjak
mereka bertemu waktu itu.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di fikiran Nana. Hatinya cemas luar biasa. Ia merasa sangat sedih karena hari-hari
mereka selalu bersama, tapi hari itu ia merasa ada yang berbeda selama 3 hari
tidak melihat Naru. Dia tidak
mengetahui kalau mama Naru
sebenarnya sedang sakit parah. Tiba –tiba Keke datang dari penjuru koridor
lantai satu, dengan napas terengah-engah ia berbicara kepada Nana.
”Na
aku ada kabar buruk kalau mamanya Naru sedang
sakit parah dan sudah 3 hari dirawat dirumah sakit !”
Nana
yang mendengar kabar itu langsung diam dan merasa sangat sedih karena ia tidak
tau bahwa sahabatnya itu sedang dalam kesedihan. Ia memutuskan menjenguk Naru dan mamanya besok setelah pulang sekolah.
***
Disudut kelas XII IPA 1 ramai dipenuhi dengan siswa -
siswi yang sedang asyik dengan obrolannya.
“Hai, Nana, Keke. Bagaimana
kabarnya Naru ? apa keadaan mamanya baik -baik saja ? kapan kamu mau
menjenguknya ?” (pertanyaan beruntun dari Vivi).
“vi, kalau nanya satu-satu
dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Nana
“Iya, kami juga belum tahu keadaannya. Ayo
kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” ajak Keke.
Bunyi
bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Tiba-tiba handphone Vivi
berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone berkamera, suara
di seberang membawa berita buruk. Tanpa pikir panjang mereka
mengambil langkah seribu menuju rumah Naru karena mereka mendapat kabar bahwa mama
Naru telah meninggal dan telah dibawa pulang kerumahnya. Sementara itu wajah
langit tampak semakin murung. Sebentar lagi pasti akan turun hujan. Ternyata
benar. Mulai ada yang menimpa setitik demi setitik dan tiba – tiba menjadi
hujan yang sangat lebat, namun hal itu tidak mereka perdulikan. Mereka lari
basah - basahan menuju rumah Naru sambil menangis. Mereka sangat khawatir dan
sedih serta tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Nyawa mama Naru
yang tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Keke,
Vivi, Nana yang sedari tadi sudah berada dirumah Naru hanya bisa melihat jasad
mama Naru, butiran air mata membasahi dipipi ketiganya. Teman – teman yang lain
pun berdatangan, memberikan ucapan belasungkawa serta semangat pada Naru.
Nana
pun tidak sanggup untuk berkata saat itu, ia juga merasa sedih melihat
kepergian mama Naru untuk selamanya - lamanya, karena ia mengenal mama Naru
dengan baik, ia tak sanggup melihat sahabatnya itu kehilangan seorang mama yang
sangat ia cintai. Sembari meneteskan air mata ia menghampiri Naru, mencoba
untuk menenangkan Naru.
“ru,
kamu harus sabar menerima semua ini, ini adalah keputusan yang terbaik dari
Allah, kamu tidak harus menyesal dengan kepergian mamamu, aku yakin kamu mampu
melewati semua ini walau tanpa mama.” ucap Nana.
Naru pun
hanya diam tanpa henti meneteskan air mata, ia tak mampu menahan perasaan
sedihnya. Naru merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya.
***
Langit
kelam menghiasi acara pemakaman sore itu. Bau tanah makam menusuk hidung. Naru duduk di samping pusaran mamanya. Di batu
nisan itu tertulis nama “Rona Andini”. Nama seorang wanita yang sangat Naru cintai. Yang menjadi Ibu
dan penolong baginya, yang akan ada disamping nya sampai kapanpun. Tapi sekarang, semua itu
hanya tinggal kenangan. Mamanya telah pergi meninggalkannya tanpa sempat ia
membahagiakan mamanya.
Buliran
air mata turun membasahi pipinya. Ia memang laki-laki yang pantang menangis.
Tapi kali ini, ia seolah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Ya,
cinta, cinta yang paling berharga itu harus hilang begitu saja. Sisi terindah
dalam hidupnya adalah mamanya.
Kata-kata
itu selalu melintas dipikiran Naru. Merasa tak percaya, kehilangan, kerinduan,
tersirat dibenaknya
karena akhir-akhir ini ia
sering tidak di rumah dan jarang berkomunikasi dengan mamanya. Seiring dengan
itu Naru bertanya dalam hati, kenapa ini bisa terjadi ?? mengapa kesedihan yang
sama harus terulang kembali, mengapa harus ada kesedihan setelah kesedihan itu
pergi ?? Tapi sayang, tak ada jawaban ! pertanyaan hanya tinggal tanya. Ia
hanya manusia biasa, ia tetaplah insan lemah yang tak punya daya dan tidak bisa
mengelak dari bencana itu. Bahwa ia harus kehilangan sosok mama yang berarti didalam
hidupnya.
***
“Terimakasih
teman – teman semua sudah mau menjadi temanku. Aku minta maaf kalau aku banyak
salah sama kalian semua.” ucap Naru
kepada teman - temannya.
Ternyata
hari itu adalah hari terakhirnya berada disekolah SMA Negeri 1 Jakarta, dan itu
adalah salam perpisahan darinya. Sambil berjalan kebelakang ia menghampiri
tempat duduk Nana.
“
Terima kasih Na setidaknya aku tau apa yang harus aku lakukan setelah ini. Maaf
kalau selama ini tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagimu, maaf kalau selama
ini aku sering merepotkanmu dan maaf juga kalau aku harus mengambil keputusan
yang aku sendiri tak sanggup melakukannya bahwa aku tidak ingin berpisah dengan
kamu dan teman-teman semua. Tapi sanggup tak sanggup aku harus tetap
menjalankannya.” Air mata Naru bertambah deras membasahi pipinya, suaranya
gemetar tak terhingga.
Sebelum beranjak ia kuatkan hatinya untuk mengulurkan
tangan ingin bersalaman dan memeluk Nana dan teman-teman yang lain, mungkin yang
terakhir kali untuknya. Ia beranjak ke luar dengan hati pilu. Ia harus pindah
ke tempat lain, untuk mengikuti papanya yang pindah tugas bekerja ke Malaysia.
Namun, sejujurnya ia tak mengharapkan kejadian ini karena akan berpisah dengan
orang-orang yang ia sayangi.
”Aku
pikir semuanya akan baik-baik saja.” pikir Naru dalam hati.
“Kita semua
mengerti perasaan kamu, kalau kamu memang harus pergi tapi apapun yang terjadi
sekalipun kita terpisah dengan jarak yang sangat jauh kita akan tetap menjadi “
sahabat selamanya. ” kata Rasyid
si ketua ketua kelas.
“ dadah Naru...kita semua
akan pasti kangen banget sama kamu.” ucap
Nana sembari meneteskan air mata disusul beberapa teman-teman yang lain.
“daaahhhhh....”semua
serentak menyampaikan selamat tinggal saat Naru berjalan
keluar dari pintu kelas.
Ia
sangat sedih. Dalam waktu sekejap persahabatannya yang indah itu hilang. Kebahagiaan
berubah menjadi kesedihan, kebersamaan berubah menjadi perpisahan. Meski raga
bersatu tapi jiwa terpisah.
“ Selamat
tinggal sahabatku, jangan lupakan persahabatan kita. Suatu saat kita dapat
bertemu kembali dan kamu jangan lupa kabari keadaan kamu disana ya.” teriak Nana
sambil meneteskan air mata.
Ia tak dapat menahan rasa
sedihnya karena Naru adalah sahabat terbaiknya sekaligus orang
yang sangat ia sukai sejak lama. Namun ia sadar bahwa persahabatan lebih indah
dari segalanya dan perasaannya itu
hanyalah sebuah perasaan yang hanya bisa ia pendam karena perpisahannya dengan Naru. Dan ia tahu
bahwa Naru hanya menganggapnya sebagai sahabat sejak kecil tidak
lebih dari seorang sahabat.
Suatu saat nanti aku akan kembali membawa kesuksesan dari apa
yang sudah kukorbankan dalam hidupku. Aku akan kembali dan akan berkumpul
bersama mereka lagi, melakukan berbagai hal bersama mereka dan melanjutkan
hidupku bersama mereka lagi sahabatku yang tercinta.
selamat tinggal teman, selamat
tinggal mama, aku akan selalu berdoa untuk kalian dan kini aku akan mencoba
melewati hari tanpa kalian,aku janji,kuat kan aku ya allah.” ucap Naru.
coretcoret
Ini adalah cerpen yang pertama kali ia buat karena sebenarnya
ia belum pernah membuat cerpen namun ia berusaha
untuk membuat cerpen ini menjadi baik dan menarik untuk dibaca, cerpen yang
berjudul “ Sebuah Janji “ ini terinspirasi melalui kisah temannya yang telah kehilangan
bundanya dan ini membuat inspirasi yang sangat berarti baginya serta beberapa kisah lainnya yang ingin ia ungkapkan,
terutama mengenai jalinan persahabatan
yang nyata yang kerap terjadi pada setiap anak remaja. Semoga kalian dapat
mengambil hikmah dari cerpen yang ini serta penulis mengharapkan kritik dan
saran untuk mengembangkan cerita yang lebih baik. Selamat membaca!!