Create Note

Nothing is Impossible

Senin, 28 April 2014

Sebuah Janji

“ Sebuah Janji “
Karya : Rosdina

                Dia menghampiri Nana yang sedari tadi terpaku dengan bukunya.
                “Na datang ya ke acara ulang tahunku.” kata Naru sembari memberi secarik undangan ulang tahunnya.
                “wah sebentar lagi sahabatku ulang tahun ya..Ini ulang tahun pertama kamu yang dirayain kan ? wah pasti asyik nih.” jawab Nana dengan senangnya.
                “ia dong, kalau begitu jangan lupa datang ya na ! awas kalau kamu tidak datang!” ancam Naru.
                ”oke ru.” jawab Nana.
***

                Brughhh ! Dihempaskannya tubuhnya keatas sofa. Baru sebentar ia memutar kembali momen di sekolah tadi pagi ia teringat tentang undangan ulang tahun dari Naru. Nana benar - benar merasa sangat bahagia dengan undangan yang diberikan Naru disekolah tadi namun ia masih bingung memutuskan untuk pergi atau tidak.
                “aku tidak harus bingung aku hanya perlu datang keacara itu.“ pikir Nana.
Permasalahan yang ada sebenarnya karena ia bingung memberikan hadiah apa kepada Naru walaupun sebenarnya Nana telah lama menjadi sahabat Naru namun sebenarnya ia merasa sangat bahagia karena Naru adalah laki-laki yang selama ini disukainya walapun mereka sudah bersahabat sejak mereka kecil namun perasaan itu selalu disimpannya dengan baik, karena ia tidak akan pernah mengungkapkan perasaannya itu kepada Naru, ia takut persahabatan yang selama ini telah terjalin sejak lama akan hancur. Setelah lama berpikir akhirnya Nana memutuskan untuk tetap pergi. Ia tidak ingin mengecewakan Naru pada hari ulang tahun sahabatnya itu.

***
                Esok nya adalah hari dimana acara ulang tahun Naru yang ke - 17 tepatnya tanggal 22 Juni yang dirayakan dirumahnya. Nana yang sebelumnya bingung memutuskan untuk pergi atau tidak akhirnya datang juga keacara ulang tahun Naru. Pada waktu yang bersamaan, ditengah keramaian teman-temannya yang datang. Nana tiba-tiba ditunjuk oleh mama Naru untuk menjadi perwakilan teman sekelas Naru untuk menyampaikan kata sambutan. Hal itu karena mama Naru kenal baik dengan Nana dan ia juga sahabat dekat Naru.
                ”Na, tolong kamu berikan kata sambutan ya, sebagai perwakilan teman                sekelasnya Naru.” pinta mama Naru.
                “Ya,tante.” Jawab Nana.
                Nana pun merasa sangat senang karena ia berpartisipasi dalam acara ulang tahun Naru. Setelah memberikan kata sambutan kembali dilanjutkan hingga acara terakhir pun tiba yaitu berdo’a setelah menikmati hidangan makanan. Nana yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba terkejut karena Naru menghampirinya yang sebelumnya asyik mengobrol dengan temannya dari sekolah lain.
                “ Nana terima kasih sudah datang keacara ulang tahunku, juga kata sambutan nya tadi.” ucap Naru.
                “ Ya,sama-sama ru. Selamat ulang tahun ya ru, semoga kamu makin dewasa diulang tahun yang ke-17 ini dan tidak sombong, makin pinter deh, trus tetap jadi sahabatku selamanya  ya hehehe..” tukas Nana panjang lebar.
                “ haha aminnn pastinya dong J …kamu bisa aja na, makasih ya Nana.” ucap Naru dengan senangnya.
                Setelah itu Naru pergi meninggalkannya. Nana hanya terdiam karena perasaan senangnya, karena hari itu hari ulang tahun Naru. Ia benar – benar senang melihat Naru hari itu.

***
                Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang ditengah taman tempat biasa yang ia kunjungi, membuat Naru hanyut dalam imajinasinya. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impiannya yang dicurahkannya lewat sebuah cerpen yang selalu ia tulis setiap imajinasinya muncul karena kegemarannya yang kedua selain bermain futsal ialah menulis cerpen.
                Dilain hal setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat dipipinya Nana bergegas menyusuri komplek rumahnya pada waktu yang bersamaan, Nana yang melihat Naru langsung memanggilnya.
                “Naruuu,, dari mana saja kamu ? Aku mencarimu !” teriak Nana.
                 “tadi aku main futsal di tempat biasa. Ma’af, sudah buat kamu khawatir.”
                 “huh..kerjaan kamu main futsal terus.” ucap Nana kesal.
                “Iya dong kan kamu tahu futsal itu tak dapat dipisahkan dari hidup aku.”
                “Huh, terserah deh, aku mau pulang aja !” cetus nana.
                Dengan rasa kesal, Nana pun melanjutkan perjalanannya yaitu pulang kerumah. Seperti biasa ia sebenarnya mencari Naru untuk belajar ataupun bermain bersama hampir setiap harinya mereka selalu bersama, namun karena matahari hampir tenggelam. Langit ditaburi sinar jingga. Di ufuk timur telah menganga lubang besar yang siap menelan sang surya. Dan bumi pun tidak lagi terang maka ia  memilih untuk pulang ke rumah.
***
                Didalam kelas sedang asyiknya mendengarkan musik favoritnya CN BLUE yang selalu didengarkannya setiap hari karena CN BLUE merupakan band favoritnya itu, namun tiba – tiba Nana dikejutkan dengan teriakan dari Naru.
                “Hei…Nananananaananono daradiridaradu....” teriak Naru dengan nyanyian yang membuat telinga nya hampir pecah.
                “Aduh, kamu kenapa ru ? emang aku tuli ya ?! mengagetkan saja ! ”
                “Hai na, jangan marah dong aku kan cuma bercanda, ooh iya asyik sekali nih melamunnya, ikutan dong.”
                “Siapa yang melamun ? kamu tidak liat apa, aku kan lagi dengerin musik ! ” ucap Nana.
                “Pasti cn blue kan ? hmmm…tapi…sekarang dengarkan aku dulu, cn bluenya nantinya aja aku mau bicara sama kamu.” Pinta Naru.
                “Kamu mau bicara apa ?” tanya Nana penasaran.
                “hmmm,,,” Naru terdiam agak lama.
                “Na,,sebentar lagi aku mau pindah sekolah,” sambil memalingkan mukanya, dia hanya terdiam.
                kok kamu baru bilang sekarang ?” tanya Nana dengan wajah sedih. Ia benar -benar merasa terkejut.
                “Gak mungkin, kamu pasti bercanda kan?” tanya Nana penasaran.
                “Iya aku serius...aku benar – benar akan pindah ke Malaysia ikut papa dan mamaku dan melanjutkan sekolah disana. ” jawab nya sambil menahan air matanya.
                “Mengapa begitu tiba-tiba, ru ? ” Tanya Nana penasaran.
                “Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolah di sana dan aku harus ikut papa dan mamaku,” ucapnya lagi.
“Tapi kan nanggung kita sudah kelas 3 ?” tanya Nana lagi dengan ekspresi seperti sangat kecewa.
                “Ia, tapi papaku mau pindah tugas jadi terpaksa aku harus ikut pindah sekolah dan tinggal disana, karena itu aku memberitahu kamu terlebih dahulu na.”
                Nana hanya terdiam, tanpa bisa berucap ia merasa sangat sedih karena akan berpisah dengan sahabat yang benar-benar ia sayangi. Nana pun tampak begitu murung selama disekolah ia terus berpikir tentang Naru yang akan berpisah dengannya.
***
                Dan bumi pun tidak lagi terang. Matahari masih di atas kepala sampai kini matahari telah lenyap, berganti senja. Langitpun tampak begitu gelap dan sepertinya akan turun hujan Naru yang sedari tadi duduk menemani mamanya yang terbaring lemas dirumah sakit, yang belum juga terbangun. Mama Naru divonis terkena kanker otak stadium akhir. Dan kanker nya itu telah meluas. Bila kankernya masih ada di stadium 2, dokter bisa melakukan chemoterapi dan pengambilan jaringan-jaringan yang terkena kanker. Tapi, untuk pengobatan semua terlambat. Mama Naru tidak mengetahui bahwa  ia mengidap kanker otak.
Naru benar – benar khawatir dengan keadaan mamanya hari itu. Hal ini membuatnya tidak masuk sekolah selama 3 hari. Malam semakin larut, Naru yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap, ia terbaring dipangkuan  mamanya hingga mentari pagi tiba.
***
                Nana yang selama 3 hari tidak melihat Naru dan tidak mengetahui kabar tentang Naru semenjak mereka bertemu waktu itu. Berbagai pertanyaan berkecamuk di fikiran Nana. Hatinya cemas luar biasa. Ia merasa sangat sedih karena hari-hari mereka selalu bersama, tapi hari itu ia merasa ada yang berbeda selama 3 hari tidak melihat Naru. Dia tidak mengetahui kalau mama Naru sebenarnya sedang sakit parah. Tiba –tiba Keke datang dari penjuru koridor lantai satu, dengan napas terengah-engah ia berbicara kepada Nana.
                ”Na aku ada kabar buruk kalau mamanya Naru sedang sakit parah dan sudah 3 hari dirawat dirumah sakit !”
                Nana yang mendengar kabar itu langsung diam dan merasa sangat sedih karena ia tidak tau bahwa sahabatnya itu sedang dalam kesedihan. Ia memutuskan menjenguk Naru dan mamanya besok setelah pulang sekolah.
***
                Disudut  kelas XII IPA 1 ramai dipenuhi dengan siswa - siswi  yang sedang asyik dengan obrolannya.
                “Hai, Nana, Keke. Bagaimana kabarnya Naru ? apa keadaan mamanya baik -baik saja ? kapan kamu mau menjenguknya ?” (pertanyaan beruntun dari Vivi).
                 “vi, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Nana
                 “Iya, kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” ajak Keke.
                Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Tiba-tiba handphone Vivi berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone berkamera, suara di seberang membawa berita buruk.  Tanpa pikir panjang mereka mengambil langkah seribu menuju rumah Naru karena mereka mendapat kabar bahwa mama Naru telah meninggal dan telah dibawa pulang kerumahnya. Sementara itu wajah langit tampak semakin murung. Sebentar lagi pasti akan turun hujan. Ternyata benar. Mulai ada yang menimpa setitik demi setitik dan tiba – tiba menjadi hujan yang sangat lebat, namun hal itu tidak mereka perdulikan. Mereka lari basah - basahan menuju rumah Naru sambil menangis. Mereka sangat khawatir dan sedih serta tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Nyawa mama Naru yang tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Keke, Vivi, Nana yang sedari tadi sudah berada dirumah Naru hanya bisa melihat jasad mama Naru, butiran air mata membasahi dipipi ketiganya. Teman – teman yang lain pun berdatangan, memberikan ucapan belasungkawa serta semangat pada Naru.
                Nana pun tidak sanggup untuk berkata saat itu, ia juga merasa sedih melihat kepergian mama Naru untuk selamanya - lamanya, karena ia mengenal mama Naru dengan baik, ia tak sanggup melihat sahabatnya itu kehilangan seorang mama yang sangat ia cintai. Sembari meneteskan air mata ia menghampiri Naru, mencoba untuk menenangkan Naru.
                “ru, kamu harus sabar menerima semua ini, ini adalah keputusan yang terbaik dari Allah, kamu tidak harus menyesal dengan kepergian mamamu, aku yakin kamu mampu melewati semua ini walau tanpa mama.” ucap Nana.
                Naru pun hanya diam tanpa henti meneteskan air mata, ia tak mampu menahan perasaan sedihnya. Naru merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya.
***
                Langit kelam menghiasi acara pemakaman sore itu. Bau tanah makam menusuk hidung. Naru  duduk di samping pusaran mamanya. Di batu nisan itu tertulis nama “Rona Andini”. Nama seorang wanita yang sangat Naru cintai. Yang menjadi Ibu dan penolong baginya, yang akan ada disamping nya sampai kapanpun. Tapi sekarang, semua itu hanya tinggal kenangan. Mamanya telah pergi meninggalkannya tanpa sempat ia membahagiakan mamanya.
                Buliran air mata turun membasahi pipinya. Ia memang laki-laki yang pantang menangis. Tapi kali ini, ia seolah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Ya, cinta, cinta yang paling berharga itu harus hilang begitu saja. Sisi terindah dalam hidupnya adalah mamanya.

               
                Kata-kata itu selalu melintas dipikiran Naru. Merasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenaknya karena akhir-akhir ini ia sering tidak di rumah dan jarang berkomunikasi dengan mamanya. Seiring dengan itu Naru bertanya dalam hati, kenapa ini bisa terjadi ?? mengapa kesedihan yang sama harus terulang kembali, mengapa harus ada kesedihan setelah kesedihan itu pergi ?? Tapi sayang, tak ada jawaban ! pertanyaan hanya tinggal tanya. Ia hanya manusia biasa, ia tetaplah insan lemah yang tak punya daya dan tidak bisa mengelak dari bencana itu. Bahwa ia harus kehilangan sosok mama yang berarti didalam hidupnya.
***
                “Terimakasih teman – teman semua sudah mau menjadi temanku. Aku minta maaf kalau aku banyak salah sama kalian semua.” ucap Naru kepada teman - temannya.
                Ternyata hari itu adalah hari terakhirnya berada disekolah SMA Negeri 1 Jakarta, dan itu adalah salam perpisahan darinya. Sambil berjalan kebelakang ia menghampiri tempat duduk Nana.
                “ Terima kasih Na setidaknya aku tau apa yang harus aku lakukan setelah ini. Maaf kalau selama ini tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagimu, maaf kalau selama ini aku sering merepotkanmu dan maaf juga kalau aku harus mengambil keputusan yang aku sendiri tak sanggup melakukannya bahwa aku tidak ingin berpisah dengan kamu dan teman-teman semua. Tapi sanggup tak sanggup aku harus tetap menjalankannya.” Air mata Naru bertambah deras membasahi pipinya, suaranya gemetar tak terhingga.
Sebelum beranjak ia kuatkan hatinya untuk mengulurkan tangan ingin bersalaman dan memeluk Nana dan teman-teman yang lain, mungkin yang terakhir kali untuknya. Ia beranjak ke luar dengan hati pilu. Ia harus pindah ke tempat lain, untuk mengikuti papanya yang pindah tugas bekerja ke Malaysia. Namun, sejujurnya ia tak mengharapkan kejadian ini karena akan berpisah dengan orang-orang yang ia sayangi.
                ”Aku pikir semuanya akan baik-baik saja.” pikir Naru dalam hati.
                “Kita semua mengerti perasaan kamu, kalau kamu memang harus pergi tapi apapun yang terjadi sekalipun kita terpisah dengan jarak yang sangat jauh kita akan tetap menjadi “ sahabat selamanya. ” kata Rasyid si ketua ketua kelas.
                dadah Naru...kita semua akan pasti kangen banget sama kamu.” ucap Nana sembari meneteskan air mata disusul beberapa teman-teman yang lain.
                daaahhhhh....”semua serentak menyampaikan selamat tinggal saat Naru berjalan keluar dari pintu kelas.
                Ia sangat sedih. Dalam waktu sekejap persahabatannya yang indah itu hilang. Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan, kebersamaan berubah menjadi perpisahan. Meski raga bersatu tapi jiwa terpisah.
                “ Selamat tinggal sahabatku, jangan lupakan persahabatan kita. Suatu saat kita dapat bertemu kembali dan kamu jangan lupa kabari keadaan kamu disana ya.” teriak Nana sambil meneteskan air mata.
                Ia tak dapat menahan rasa sedihnya karena Naru adalah sahabat terbaiknya sekaligus orang yang sangat ia sukai sejak lama. Namun ia sadar bahwa persahabatan lebih indah dari segalanya dan  perasaannya itu hanyalah sebuah perasaan yang hanya bisa ia pendam karena perpisahannya dengan Naru. Dan ia tahu bahwa Naru hanya menganggapnya sebagai sahabat sejak kecil tidak lebih dari seorang sahabat.
                Suatu saat nanti aku akan kembali membawa kesuksesan dari apa yang sudah kukorbankan dalam hidupku. Aku akan kembali dan akan berkumpul bersama mereka lagi, melakukan berbagai hal bersama mereka dan melanjutkan hidupku bersama mereka lagi sahabatku yang tercinta.

                selamat tinggal teman, selamat tinggal mama, aku akan selalu berdoa untuk kalian dan kini aku akan mencoba melewati hari tanpa kalian,aku janji,kuat kan aku ya allah.” ucap Naru.



 coretcoret

           Ini adalah cerpen yang pertama kali ia buat karena sebenarnya ia belum pernah  membuat cerpen namun ia berusaha untuk membuat cerpen ini menjadi baik dan menarik untuk dibaca, cerpen yang berjudul “ Sebuah Janji “ ini terinspirasi melalui kisah temannya yang telah kehilangan bundanya dan ini membuat inspirasi yang sangat berarti baginya serta  beberapa kisah lainnya yang ingin ia ungkapkan, terutama  mengenai jalinan persahabatan yang nyata yang kerap terjadi pada setiap anak remaja. Semoga kalian dapat mengambil hikmah dari cerpen yang ini serta penulis mengharapkan kritik dan saran untuk mengembangkan cerita yang lebih baik. Selamat membaca!!

4 komentar:

  1. sungguh keren sekali cerita antum ini, saya sampai menangis :') lanjutkan ya nulisnya

    BalasHapus
  2. eeh antum, kalo mau nangis jangan disini langsung depan saya aja, subhanallah~~

    BalasHapus
    Balasan
    1. sedih ceritanya,sampai mengelindang air mata :')

      Hapus